Tampilkan postingan dengan label artikel kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel kesehatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Mei 2021

Tips Mengatasi Sembelit

Selain diare, masalah yang berkaitan dengan pencernaan lainnya yang juga mengganggu adalah sembelit.

Anda mungkin sudah mencoba berbagai cara untuk menghindari dan mengatasi sembelit tetapi masih sering mengalaminya. Apa sebenarnya penyebab sembelit? Bagaimana cara mengatasi sembelit?

Sembelit ditandai dengan gejala berikut ini:

o   Buang air besar kurang dari tiga kali seminggu

o   Tinja keras dan kering

o   Sulit buang air besar

o   Buang air besar tidak tuntas

Penderitanya juga dapat mengalami sakit perut, kembung atau mual.

Penyebab Sembelit

Ada berbagai hal yang dapat menyebabkan sembelit, dan terkadang penyebabnya tidak diketahui.

  1. Kurang makan makanan berserat
  2. Kurang cairan
  3. Kurang gerak, atau terlalu lama duduk atau berbaring
  4. Kurang olahraga
  5. Sering menahan buang air besar
  6. Perubahan pola makan atau kebiasaan sehari-hari
  7. Efek samping obat
  8. Stress, kecemasan atau depresi

Sembelit juga sering dialami ibu hamil hingga 6 minggu setelah melahirkan. Sembelit juga dapat disebabkan karena kondisi medis tertentu (jarang), seperti adanya sumbatan di usus besar, masalah saraf di sekitar usus besar dan rektum.

Faktor Risiko Sembelit

Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang lebih berisiko mengalami sembelit, yaitu:

o   Wanita

o   Berusia lanjut

o   Mengalami dehidrasi

o   Mengkonsumsi makanan rendah serat

o   Kurang banyak bergerak

o   Mengkonsumsi obat-obatan tertentu seperti sedatif, obat nyeri golongan opioid, antidepresan, atau obat untuk menurunkan tekanan darah

o   Memiliki masalah kesehatan mental seperti depresi atau gangguan makan

Bagaimana Cara Mengatasi Sembelit?

Anda mungkin sudah sering mendengar anjuran untuk banyak makan makanan serat seperti buah, sayur dan gandum utuh sebagai cara mengatasi sembelit.

Meskipun mudah dan aman (terutama bagi ibu hamil), mungkin Anda sudah mencoba cara tersebut tetapi belum berhasil. Perlu Anda perlu ketahui, terkadang diperlukan waktu hingga beberapa minggu hingga gejala membaik.

Bila makan banyak serat belum berhasil, Anda dapat mencoba cara mengatasi sembelit berikut ini:

  1. Banyak minum air putih
  2. Banyak makan serat, terutama jenis serat yang dapat larut dan tidak terfermentasi. Contoh serat yang dapat larut misalnya oat, kacang-kacangan, biji-bijian, polong-polongan dan beberapa jenis buah dan sayuran. Serat yang dapat larut menyerap air dan membentuk pasta seperti jel sehingga dapat melunakkan tinja dan memperbaiki konsistensinya. Sedangkan serat yang tidak larut (misalnya gandum utuh, sayuran), dapat menambah volume tinja dan mempercepat keluarnya tinja. Untuk mendapatkan hasil yang baik, kombinasikan serat yang dapat larut dan tidak dapat larut dalam diet Anda.
  3. Lebih aktif/banyak berolahraga. Mulailah dengan olahraga ringan seperti jalan kaki dengan teratur, berenang, bersepeda atau jogging.
  4. Minum kopi, terutama yang berkafein. Bagi sebagian orang, kopi dapat meningkatkan keinginan buang air besar karena kopi menstimulasi sistem pencernaan. Hindari kopi bila Anda memiliki pencernaan yang sensitif, menderita penyakit pencernaan (sindrom iritasi usus), atau sedang hamil.
  5. Konsumsi makanan yang mengandung probiotik seperti yogurt, atau kimchi. Di usus sebagian orang yang mengalami sembelit terjadi ketidakseimbangan bakteri. Makanan probiotik dapat membantu mengatasi masalah tersebut. Selain makanan, Anda dapat mengkonsumsi suplemen yang mengandung probiotik.
  6. Minum obat pencahar. Obat pencahar dapat membantu untuk mengatasi sembelit. Ada beberapa jenis obat pencahar yang memiliki cara kerja berbeda tetapi semuanya bertujuan untuk mengatasi sembelit. Antara lain: pencahar yang dapat meningkatkan kandungan air di tinja, melembutkan tinja, menstimulasi saraf usus untuk meningkatkan gerak usus, dan pencahar osmotik yang menarik air dari jaringan sekitar menuju ke sistem pencernaan.

Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau apoteker Anda sebelum memilih obat pencahar yang tepat untuk Anda. Karena tidak semua aman atau tepat untuk Anda.

  1. Hindari produk susu. Sebagian orang yang mengalami intoleransi produk susu dapat mengalami sembelit.
  2. Perbaiki kebiasaan buang air besar. Ubah kebiasaan Anda, dan cobalah untuk mengatur waktu buang air besar yang sama setiap harinya. Jangan menahan bila Anda ingin buang air.

Apabila cara-cara di atas sudah Anda lakukan tetapi Anda masih mengalami sembelit, konsultasikan keluhan Anda lebih lanjut kepada dokter.

Selain itu, bila Anda mengalami hal berikut ini, segera periksakan diri Anda untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat:

o   Sering mengalami sembelit (berulang) dan berlangsung lama

o   Sering kembung

o   Terdapat darah di tinja

o   Mengalami penurunan berat badan

o   Selalu merasa letih

o   Mengkonsumsi obat-obatan rutin yang dapat menyebabkan sembelit

Komplikasi Sembelit

Sembelit yang berkepanjangan dapat menimbulkan komplikasi. Tinja dapat terkumpul di bagian akhir usus besar (rektum). Selain itu dapat terjadi:

o   Hemoroid atau ambeien akibat terlalu sering mengejan ketika buang air besar.

o   Kulit di sekitar anus robek.

o   Tinja mengeras dan menumpuk di usus.

o   Bagian usus keluar dari anus (prolaps rektum) akibat mengejan.


Sumber: medicastore.com


Mengenal Fobia

 Apa itu Fobia?

Fobia merupakan suatu jenis gangguan kecemasan. Akan tetapi, tidak seperti ganguan kecemasan umum, fobia biasanya berkaitan dengan sesuatu yang spesifik.

Fobia adalah ketakutan berlebihan terhadap suatu obyek, tempat, situasi, perasaan atau hewan. Fobia lebih berat dari rasa takut. Fobia muncul ketika seseorang merasa berada dalam keadaan berbahaya yang berlebihan dan tidak realistis terhadap suatu obyek atau situasi. Penderita fobia seringkali menyadari bahwa ketakutan mereka tidak rasional, tetapi mereka tidak dapat melakukan apa-apa untuk mengubahnya.

Penderita fobia dapat tidak bergejala, gejala muncul ketika berhadapan dengan pemicu fobia. Meskipun begitu, pada beberapa kasus, hanya memikirkan sumber fobia saja dapat membuat seseorang merasa cemas atau panik.

Gejala dapat berupa:

·         Pusing, rasa melayang

·         Mual

·         Muntah

·         Berdebar-debar

·         Sesak napas

·         Gemetar

·         Sakit perut

Penyebab Fobia

Fobia tidak memiliki penyebab tunggal, tetapi disebabkan karena beberapa faktor. Faktor genetik dan lingkungan dapat menyebabkan fobia. Anak-anak yang memiliki keluarga dekat yang memiliki gangguan kecemasan berisiko menderita fobia. Fobia dapat merupakan respons yang dipelajari saat usia sangat muda dari orang tua atau saudara kandung. Kejadian yang mengerikan misalnya nyaris tenggelam, juga dapat menyebabkan fobia. Paparan terhadap ruang sempit, ketinggian ekstrim, dan gigitan hewan atau serangga dapat menjadi sumber fobia.

Pasien yang menderita suatu penyakit seringkali memiliki fobia. Angka kejadian fobia pada pasien cedera otak traumatik cukup tinggi. Penyalahgunaan zat dan depresi juga dikaitkan dengan fobia.

Jenis-jenis Fobia

Ada berbagai obyek atau situasi yang dapat menyebabkan fobia, namun secara umum fobia dapat dibagi menjadi dua kategori:

1.      Fobia spesifik atau sederhana

Fobia spesifik atau sederhana berkisar antara obyek tertentu, binatang, situasi atau aktivitas. Fobia jenis ini seringkali berkembang saat masa kanak-kanak atau remaja dan menjadi berkurang seiring pertambahan usia. Contoh dari fobia sederhana misalnya:

·         Fobia binatang; misalnya anjing, laba-laba, ular atau tikus

·         Fobia lingkungan; misalnya ketinggian, perairan dalam dan kuman

·         Fobia situasional; misalnya mengunjungi dokter gigi atau terbang

·         Fobia berkaitan dengan tubuh; misalnya darah, muntah atau mendapatkan suntikan

·         Fobia seksual; misalnya kecemasan saat berhubungan seksual atau ketakutan mendapatkan penyakit menular seksual

2.      Fobia kompleks

Fobia kompleks cenderung lebih berat dibandingkan dengan fobia sederhana. Fobia jenis ini cenderung muncul di masa dewasa dan seringkali dikaitkan dengan ketakutan yang mendalam atau kecemasan terhadap situasi atau lingkungan. Dua fobia kompleks yang paling sering adalah:

·         Agoraphobia

Agoraphobia seringkali dianggap sebagai ketakutan terhadap ruang terbuka, tetapi sebenarnya merupakan ketakutan yang lebih kompleks. Penderita agoraphobia akan merasa cemas ketika berada di suatu tempat atau situasi di mana mereka akan sulit menghindar bila mereka mengalami serangan panik. 

·         Fobia sosial

Fobia sosial, juga dikenal sebagai gangguan kecemasan sosial. Fobia ini merupakan kekhawatiran yang berlebihan mengenai situasi sosial dan dapat menyebabkan isolasi diri. Fobia sosial dapat menjadi sangat berat hingga bahkan interaksi yang paling sederhana, misalnya memesan makanan di restoran atau menjawab telepon, dapat menyebabkan panik.

Jenis-jenis Fobia yang Sering

Berikut ini beberapa jenis fobia yang paling sering:

1.      Glossofobia. Fobia ini dikenal sebagai kecemasan saat tampil, atau ketakutan berbicara di depan orang banyak. Penderita fobia ini memiliki gejala fisik berat bahkan ketika hanya memikirkan tampil di depan sekelompok orang.

2.      Akrofobia. Ini merupakan ketakutan terhadap ketinggian. Penderitanya akan menghindari gunung, jembatan, atau lantai yang tinggi dari suatu gedung. Gejalanya dapat berupa vertigo, pusing, berkeringat, dan merasa seperti akan pingsan.


Sumber: medicastore.com

Senin, 17 Mei 2021

Kebutuhan Zat Besi Harian

Zat besi adalah komponen dari sejumlah protein, termasuk hemoglobin, myoglobin, sitokrom dan enzim yang terlibat dalam reaksi redoks. Hemoglobin sangat penting untuk transportasi oksigen ke jaringan di seluruh tubuh.

Asupan zat besi yang tidak mencukupi dapat menyebabkan berbagai derajat defisiensi, mulai dari cadangan zat besi yang kurang, menjadi defisiensi zat besi awal, hingga menjadi anemia defisiensi besi.

Gejala Defisiensi Zat Besi

Kekurangan zat besi dapat memberikan gejala sebagai berikut:

·         Lelah

·         Kurang konsentrasi

·         Meningkatnya risiko infeksi

·         Kulit pucat

·         Kelemahan/pusing

Siapa yang Berisiko Mengalami Defisiensi Zat Besi?

Kelompok orang berikut ini berisiko mengalami kekurangan zat besi:

·         Wanita usia reproduktif

·         Anak kecil

·         Wanita hamil

·         Vegetarian

·         Vegan

Apa Makanan Sumber Zat Besi?

Beberapa jenis makanan berikut ini dapat menjadi sumber zat besi:

·         Hati (hindari mengkonsumsi makanan ini ketika hamil)

·         Daging

·         Polong-polongan

·         Kacang-kacangan

·         Buah kering, misalnya apricot

·         Gandum utuh, misalnya beras merah

·         Sayuran berwarna hijau tua

Berapa Banyak Zat Besi yang Dibutuhkan Dalam Sehari?

Kebutuhan zat besi bergantung pada usia dan jenis kelamin. Berikut ini rekomendasi kebutuhan zat besi harian sesuai usia dan jenis kelamin:

1.      Bayi 0 – 6 bulan: 0,2 mg/hari. (Catatan: rekomendasi ini berkaitan dengan bayi yang diberikan ASI. Zat besi dalam susu formula yang diserap tubuh jumlahnya kurang, secara umum hanya 10 – 20% dibandingkan dengan ASI, sehingga asupan bayi yang diberikan susu formula perlu lebih tinggi).

2.      Bayi 7 – 12 bulan: 11 mg/hari.

3.      Anak 1 – 3 tahun: 9 mg/hari.

4.      Anak 4 – 8 tahun: 10 mg/hari.

5.      Anak laki-laki 9 – 13 tahun: 8 mg/hari.

6.      Anak laki-laki 14 – 18 tahun: 11 mg/hari.

7.      Anak perempuan 9 – 13 tahun: 8 mg/hari.

8.      Anak perempuan 14 – 18 tahun: 15 mg/hari.

9.      Pria 19 – 70 tahun: 8 mg/hari.

10.  Pria >70 tahun: 8 mg/hari.


Sumber: medicastore.com